Sejak tahun 2015, pemerintah mencanangkan kampanye program Go Digital Vision 2020 dengan target menjadikan Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Untuk mendukung kampanye Go Digital Vision 2020 ini, Indonesia gencar mengajak masyarakat untuk menjadi cashless society dengan memberlakukan transaksi e-money atau uang elektronik. Berhasilkah kampanye Go Digital Vision 2020? Apakah kamu termasuk cashless society yang menikmati keuntungan bertransaksi cashless? Sebenarnya, seperti apa konsep transaksi cashless?

Nah, tidak perlu khawatir bila kamu masih buta mengenai transaksi cashless dan peran pentingnya dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini. Artikel ini akan membahas tuntas arti cashless beserta keuntungan dan kekurangan bagi penggunaannya. Kamu juga akan semakin memahami pilihan produk-produk e-money yang sesuai dengan kebutuhan transaksi keseharian. Sehingga kamu akan semakin bijak bertransaksi sebagai bagian dari cashless society.

Cashless adalah Pembayaran Digital, Ini Faktor Pemicu Kemunculannya

Ilustrasi penggunaan sistem transaksi cashless.

Cashless adalah metode pembayaran tanpa menggunakan uang tunai fisik. Sistem cashless menggunakan pembayaran digital yang didukung dengan kecanggihan teknologi. Cashless bisa dikatakan sebagai pembayaran nontunai atau pembayaran digital. Untuk bertransaksi, kamu cukup menggunakan kartu elektronik, One-Time Password (OTP), atau memindai barcode pada ponsel pintar.

Pada 17 Agustus 2019, Bank Indonesia (BI) meluncurkan Quick Response Code Indonesia Standar (QRIS) sebagai standar kode QR atau barcode untuk mempermudah pembayaran digital. Dengan QRIS, transaksi pembayaran QR Code hanya memerlukan satu QR Code karena kode terintegrasi dengan seluruh aplikasi yang menerima pembayaran dengan QR Code.

Sejak 1 Januari 2020, BI mewajibkan penyedia layanan cashless untuk menggunakan sistem QRIS. Peningkatan penggunaan transaksi cashless jelas berdampak positif bagi perekonomian negara. Transaksi cashless membantu negara dalam perencanaan ekonomi karena setiap transaksi tercatat secara digital. Transaksi cashless juga meningkatkan sirkulasi peredaran uang yang berdampak pada peningkatan koleksi pajak negara yang kemudian bisa dialokasikan untuk pengembangan sektor-sektor publik.

Faktor Pemicu Kemunculan Cashless

Misi negara untuk menjadikan Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara bukan satu-satunya faktor pemicu kemunculan sistem cashless. Negara juga mewaspadai semakin tingginya tingkat kejahatan perbankan yang merugikan masyarakat dan negara. Misalnya, masih adanya peredaran uang palsu, korupsi, hingga perampokan. Nah, sistem cashless mampu meminimalisir potensi tindakan kriminal tersebut karena proses transaksinya tidak melibatkan uang fisik, melainkan secara digital dan terintegrasi sehingga bisa dilacak.

Dorongan untuk menerapkan praktik cashless juga dipicu oleh kesadaran masyarakat untuk go digital. Masyarakat menyadari percepatan perkembangan teknologi mampu mempermudah aktivitas keseharian, termasuk di sektor keuangan. Adanya peningkatan permintaan dan kebutuhan masyarakat untuk bertransaksi non-tunai mendorong terciptanya cashless society. Yaitu, masyarakat yang tidak lagi menggunakan uang tunai fisik untuk bertransaksi keuangan.

Jenis Alat Transaksi Cashless di Indonesia

Ilustrasi transaksi cashless dengan e-wallet.

Ketika kamu mendengar sistem transaksi cashless apa produk pembayaran apa yang terlintas di benakmu? Kartu elektronik? Kemungkinan jawaban banyak orang adalah kartu elektronik atau e-money yang memang sudah digunakan banyak orang, terutama generasi muda dan kaum pekerja. Namun, jenis transaksi cashless di Indonesia tidak sebatas e-money lho. Perkembangan sistem cashless cukup pesat dengan kemunculan opsi-opsi pembayaran digital lainnya. Berikut jenis transaksi non-tunai yang bisa kamu gunakan untuk transaksi keseharian:

Cashless Menggunakan Rekening Ponsel

Beberapa bank swasta seperti CIMB Niaga, BNI, dan Mandiri melakukan inovasi cashless dengan menerbitkan rekening ponsel. Inovasi ini membantu nasabah yang kerap kesulitan mengingat nomor rekening bank pribadi. Sebagai gantinya, nasabah bisa bertransaksi menggunakan nomor ponsel yang telah didaftarkan. Untuk proses transaksi, nasabah cukup menyiapkan pulsa telepon karena akan ada biaya transaksi berupa biaya pulsa SMS atau paket data (internet).

Fitur rekening ponsel cukup lengkap untuk memenuhi transaksi perbankan, seperti tarik tunai, setor tunai, cek saldo, bayar tagihan, transaksi di ATM, dan cek riwayat transaksi. Menariknya, rekening ponsel tidak memungut biaya administrasi dan bunga. Rekening ponsel juga membebaskan nasabahnya dari kondisi dormant. Artinya, rekening ponsel tetap aktif meski saldonya Rp0.

Cashless Menggunakan E-Money dan E-Wallet

Sistem transaksi cashless yang paling populer di Indonesia saat ini adalah e-money dan e-wallet. Keduanya merupakan produk yang berbeda, ya. Ada beberapa perbedaan fitur yang signifikan di antara keduanya. E-money merupakan uang elektronik yang muncul terlebih dahulu dibandingkan e-wallet. E-money cashless adalah uang yang tersimpan di sistem perbankan untuk bertransaksi secara digital dan diterbitkan oleh lembaga perbankan.

Sementara e-wallet merupakan dompet elektronik untuk bertransaksi secara digital dengan menggunakan media internet dan diterbitkan oleh financial technology (fintech). Sebagai produk fintech, e-wallet berbasis aplikasi di ponsel pintar. Berikut adalah beberapa perbedaan antara e-money dan e-wallet:

  • Server Based dan Chip Based. E-money menggunakan chip yang tertanam di kartu fisik untuk membaca proses transaksi. Berbeda halnya dengan e-wallet yang berbasis pada server sehingga pengguna harus memiliki jaringan internet untuk bertransaksi. Untuk memiliki e-wallet kamu harus mengunduh aplikasinya ke ponsel pintar.
  • Pengisian dan Limit Saldo. Pengisian saldo keduanya bisa melalui perusahaan atau bank penerbit, atau merchant yang bekerja sama. Hanya biasanya opsi pengisian saldo e-money lebih terbatas, yakni di bank penerbit. Nah, mengenai limit saldo, e-wallet memungkinkan untuk mengisi saldo dalam jumlah besar. Sedangkan, limit ada yang menetapkan maksimal e-money sebesar Rp2.000.000.
  • Registrasi. Untuk mengaktifkan e-money kamu tidak perlu melakukan registrasi. Kartu yang dibeli di bank penerbit atau merchant bisa segera digunakan. Sedangkan, proses registrasi dibutuhkan untuk aktivasi e-wallet dengan informasi nomor ponsel, alamat email, dan data diri lainnya.

Setelah mengetahui beberapa perbedaan e-money dan e-wallet, kamu bisa menentukan produk cashless yang sesuai dengan kebutuhanmu. Untuk lebih mempermudah pilihan, berikut beberapa produk berbasis e-money dan e-wallet yang ada di Indonesia:

1. E-money Flazz BCA

Flazz BCA merupakan produk e-money milik Bank BCA untuk mempermudah transaksi cashless Flazz BCA dilengkapi chip Radio Frequency Identification (RFID) sehingga pengguna dapat bertransaksi lewat sentuhan dalam hitungan detik. Kegunaan cashless Flazz BCA sangat beragam untuk transaksi pembelian makanan dan minuman di restoran maupun minimarket, pembelian bensin, pembayaran biaya tol, parkir, transportasi umum dan lain-lainnya. Tentu pembayaran cashless dengan Flazz BCA hanya bisa digunakan bila merchant telah berlogo Flazz BCA.

2. Mandiri e-money

Mandiri e-money adalah produk transaksi cashless yang bisa dimiliki oleh nasabah dan non-nasabah Bank Mandiri. Seperti halnya Flazz BCA, Mandiri e-money juga mempermudah pengguna untuk melakukan pembayaran di minimarket, restoran, parkir, SPBU, transportasi umum, tempat rekreasi, dan lain-lainnya yang telah bekerjasama dengan Bank Mandiri. Mandiri e-money memungkinkan untuk top-up maksimal Rp20.000.000 dan maksimal saldo tersimpan Rp2.000.000.

3. E-wallet LinkAja

Kerjasama HIMBARA, Telkomsel, dan Pertamina melahirkan e-wallet LinkAja yang mempermudah proses transaksi apapun. Misalnya, pembelian pulsa, pembayaran tagihan, pembayaran asuransi, transfer uang, melakukan donasi, hingga mengajukan pinjaman. LinkAja memiliki dua tipe akun pengguna, yaitu Basic Service untuk pengguna baru dengan saldo maksimal Rp2.000.000. Tipe ini bisa ditingkatkan menjadi Full Service dengan saldo maksimal Rp10.000.000 melalui bantuan GraPARI. Kamu cukup menunjukkan kartu identitas asli (KTP/SIM/Paspor). Selain perbedaan saldo maksimal, Full Service memungkinkan untuk transfer uang dan tarik saldo yang tidak bisa dilakukan pengguna Basic Service.

4. E-wallet DANA

DANA merupakan e-wallet karya anak bangsa yang diluncurkan sejak tahun 2018. Aplikasi dompet digital ini membantu proses transaksi cashless mulai dari pembayaran tagihan, transfer uang, pembelian di e-commerce, hingga transaksi barcode. Selain menggunakan barcode, transaksi cashless DANA dijamin aman dengan kode PIN dan OTP. Sebagai e-wallet pengguna harus mengunduh aplikasi DANA yang tersedia di Google Play Store, App Store, dan AppGallery, serta melakukan registrasi sebelum menggunakannya.

5. E-wallet Sakuku

Selain berinovasi dengan e-money, Bank BCA juga mengeluarkan e-wallet bernama Sakuku. Kehadiran Sakuku memberikan pilihan lebih beragam bagi nasabah BCA dalam bertransaksi cashless. Fitur Sakuku tentu lebih mumpuni dibandingkan e-money BCA. Melalui Sakuku, kamu bisa melakukan pembelian isi ulang, tiket bioskop, pembayaran di restoran, toko buku, tempat-tempat hiburan, transfer uang ke sesama pengguna Sakuku, pembagian tagihan ke maksimal sembilan orang (split bill), hingga tarik tunai di ATM BCA.

Baca Juga: Gunakan e-money Mandiri dan Nikmati Kemudahan Bertransaksi dengan Sekali Tap

Cashless Menggunakan Tabungan Digital

Inovasi perbankan mempermudah nasabah untuk membuka rekening secara digital. Ya, kamu tidak perlu lagi mengunjungi kantor cabang bank untuk memiliki rekening tabungan. Kini kamu bisa memproses pembukaan rekening di manapun dan kapanpun hanya bermodalkan ponsel pintar dan jaringan internet. Produk tabungan digital untuk mendukung sistem cashless telah diwujudkan oleh beberapa bank di Indonesia.

Untuk membuka tabungan digital, kamu harus mengunduh aplikasi tabungan digital bank yang diinginkan, lalu isi informasi diri. Setelah proses registrasi, kamu bisa bertransaksi cashless, mulai dari transfer uang, membayar tagihan, membayar cicilan kredit, dan lain-lainnya. Tabungan digital juga menarik nasabah dari segi penawaran bunga hingga 5%, sementara tabungan konvensional berkisar 1-3%.

Keuntungan Sistem Transaksi Cashless

Ilustrasi transaksi cashless mempermudah pembayaran.

Digitalisasi telah merambah ke segala aspek kehidupan, termasuk kegiatan transaksi jual beli dan perbankan. Sudah waktunya kamu pun beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menjadi bagian dari cashless society agar kegiatan keuangan yang kamu lakukan semakin praktis dan mudah. Setelah mengenal beberapa jenis transaksi cashless yang ada di Indonesia, sudahkah kamu menetapkan pilihan? Untuk lebih memantapkan pilihanmu, yuk kenali keuntungan bertransaksi dengan sistem cashless!

1. Praktis

Kamu akan merasakan praktisnya bertransaksi cashless dibandingkan menggunakan uang tunai. Dengan menggunakan e-money, e-wallet, atau tabungan digital kamu tidak perlu membawa uang tunai di dalam dompet. Semua dana yang kamu miliki tersimpan dan terintegrasi dalam sebuah kartu elektronik atau sistem aplikasi. Untuk memproses transaksi, kamu cukup menempelkan kartu e-money ke mesin pembayaran atau mengirim dana secara online melalui aplikasi e-wallet. Transaksi akan diproses dalam hitungan detik.

2. Tidak Repot Mengurus Uang Kembalian

Kamu yang kerap kesulitan mengelola uang kembalian, terutama uang receh, sebaiknya segera aplikasikan transaksi cashless. Dengan sistem cashless kamu tidak lagi repot mengurus uang kembalian karena dana yang kamu keluarkan otomatis sesuai dengan nominal yang harus dibayarkan. Bahkan, hingga hitungan sepeser pun. Jadi, kamu tidak akan lagi menerima uang kembalian, menyenangkan kan?

3. Ada Banyak Promo Menarik

Baik produk e-money maupun e-wallet menawarkan banyak promo menarik bagi penggunanya. Mulai dari potongan harga di merchant makanan dan minuman, hingga cashback untuk pembelian produk tertentu. Bila kamu cerdas memanfaatkan promo menarik, kamu bisa menghemat pengeluaran. Tapi, jangan terbuai dengan promo yang ditawarkan ya. Hindari perilaku konsumtif hanya karena ada potongan harga yang rugi untuk dilewati.

4. Mencegah Tindakan Pencurian Uang

Kasus pencopetan di ruang publik masih meresahkan. Tindakan pencurian uang bisa dicegah dengan sistem cashless. Kamu tidak perlu lagi membawa uang dalam jumlah besar di dompet atau tas yang berpotensi untuk dicopet. Simpan dana keuanganmu dengan aman di kartu elektronik atau aplikasi yang terunduh di ponsel pintar. Bagaimana bila kamu kehilangan ponsel? Kamu bisa mengantisipasi kehilangan uang dalam kasus ini dengan mengamankan akun e-wallet menggunakan PIN.

5. Mempermudah Pengaturan Pengeluaran

Khusus untuk penggunaan e-wallet, kamu bisa mengelola pengeluaran karena setiap transaksi terekam dalam sistem. Mulai dari nominal, waktu, hingga rekening tujuan transaksi. Cek alur pengeluaran ini di fitur riwayat transaksi. Sistem pengecekan ini sangat membantu untuk menjaga keuangan tetap sehat.

Kekurangan Sistem Transaksi Cashless

1. Lebih Boros

Sistem cashless yang tidak menggunakan uang tunai fisik bisa mendorong perilaku boros bila tidak dibarengi dengan kontrol pengeluaran yang benar. Ini dikarenakan ketika membayar secara digital, orang merasa tidak mengeluarkan uang. Selain itu, banyaknya promo yang ditawarkan produk pembayaran cashless mudah menggoda orang untuk melakukan pembelian. Ia akan beranggapan telah diuntungkan dengan potongan harga yang diberikan, namun pengeluaran justru tidak terkontrol bila terbuai dengan setiap potongan harga. Terlebih, transaksi yang dilakukan untuk barang yang tidak diperlukan.

2. Rentan Kejahatan Siber

Di atas telah dipaparkan keuntungan cashless mampu mencegah pencurian uang karena akun e-wallet terlindungi dengan PIN. Namun, bukan berarti transaksi digital bebas dari peluang kejahatan. Ketahuilah adanya peluang kejahatan siber melalui phising (pengelabuan yang mencuri data diri dan kata sandi), malware, dan aplikasi jahat. Pastikan kamu rutin mengganti kata sandi atau PIN untuk keamanan akun. Selain itu, lakukan transaksi digital pada aplikasi yang telah terjamin keamanannya. Misalnya, memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

3. Diperlukan Literasi Teknologi yang Baik

Masih berkaitan dengan poin di atas, untuk menghindari praktik kejahatan siber, pengguna transaksi digital harus memiliki literasi teknologi yang baik. Pahami pentingnya menjaga keamanan akun dan PIN agar tidak terjadi pencurian uang. Pemahaman literasi teknologi juga penting untuk mengoperasikan aplikasi e-wallet dengan maksimal. Misalnya, bagaimana proses transfer uang secara digital? Bagaimana melakukan top-up saldo? Untuk menguasai fitur-fitur cashless tidak rumit, kok. Cukup perbanyak informasi produk, berlatih, dan bersabar.

Anti-Boros Bayar dengan Sistem Cashless

Sistem cashless dikampanyekan untuk mempermudah proses transaksi, bukan mengajak masyarakat untuk bersikap boros. Kemudahan dan keuntungan dari pembayaran digital memang menggoda, tapi tetaplah bijak dalam melakukan pengeluaran. Maksimalkan fitur-fitur pembayaran digital untuk mengasah kemampuanmu mengatur pengeluaran. Kamu juga bisa merencanakan keuangan dengan bantuan para pakar keuangan di MoneyDuck lho. Konsultasikan rencana keuangan atau kebutuhan produk perbankan dengan pakarnya langsung. Caranya mudah! Klik tombol Konsultasi Gratis di bawah ini saja.