Di penghujung tahun 2019 dan menyambut kedatangan tahun baru 2020 ini, kita harus bersiap-siap dengan berbagai kemungkinan untuk kenaikan harga beberapa kebutuhan hidup. Sempat tersiar khabar adanya kemungkinan kenaikan iuran BPJS Kesehatan, tarif listrik, tarif LPG dan bisa jadi biaya hidup yang lainnya. Anda perhatikan saja, berapa kenaikan gaji Anda tahun ini, atau jika Anda wiraswasta, berapa kenaikan laba usaha Anda? Apakah mencukupi kenaikan berbagai kebutuhan dasar hidup tersebut? Jika tidak, maka solusi yang wajib Anda lakukan adalah menghemat pengeluaran rumah tangga.

Jika Tak Bisa Menambah Penghasilan, Ini Jalan Berhemat yang Harus Dilakukan

Prinsip dalam perencanaan keuangan adalah menambah penghasilan atau mengurangi pengeluaran. Apapun kondisi penghasilan Anda, apakah menjelang tahun baru nanti bisa menambah penghasilan atau tidak, satu hal penting yang bisa Anda lakukan adalah berhemat khususnya hemat untuk pengeluaran rumah tangga. Berhemat bagi sebagian besar orang bukan jalan yang menarik. Biar tidak terlalu menyiksa Anda, berikut ini cara berhemat yang bisa Anda lakukan:

1. Kembali ke Pasar Tradisional

Saat ini, banyak minimarket, supermarket memanjakan pelanggannya hingga ke pelosok daerah. Ambil contoh saja Indomart, Alfamart, Alfamidi dan sejenisnya, kini makin mudah ditemui si epanjang jalan strategis hingga ke pelosok daerah. Dampaknya, banyak pembeli yang sebelumnya belanja di pasar tradisional, mulai berlaih ke minimarket tersebut. Kenyamanan ruangan ber AC, transaksi modern, pelayan yang ramah sering membuai pembeli hingga lupa anggaran yang sudah dibuat dan juga lupa membendingkan harga. Tahukah Anda bahwa kadangkala harga di supermarket bisa lebih mahal 2x lipat dari harga di tukang buah pasar tradisional. Memang tidak semua, tapi bisa Anda bandingkan lebih jeli lagi ke depannya.

2. Gunakan Perabot Hemat Listrik

Selain makan, konsumsi listrik juga berkontribusi besar terhadap pengeluaran bulanan keluarga. Saat ini hampir setiap aktivitas kita tak lepas dari perangkat elektronik yang sekaligus membutuhkan konsumsi energi. Biar bisa berhemat, ini yang bisa dilakukan:

  • Manfaatkan produk hemat listrik. Terkesan lebih mahal di awal, tapi sejatinya lebih hemat untuk jangka panjang. Paling terasa untuk produk AC.
  • Disiplin untuk kontrol penggunaan perangkat elektronik di rumah. Contoh saja, pemakaian AC hanya boleh digunakan mulai jam 2 siang hingga jam 6 pagi. Siang hari gunakan lampu minimal dan maksimalkan penerangan alami ruangan.

3. Jangan boros barang konsumtif, terutama kendaraan

Mobil dan motor bagi masyarakat Indonesia seolah merupakan kewajiban. Selain transportasi umum yang belum sepenuhnya memenuhi harapan sebagian besar masyarakat, mobil dan motor bisa jadi simbol prestis dan status sosial. Tak jarang orang bisa punya kendaraan lebih dari satu, bisa dua atau bahkan tiga, walau garasi rumah tak mencukupi. Hal ini tidak bijak dari sisi perencanaan keuangan. Selain harga kendaraan cenderung makin lama makin turun, konsumsi bahan bakar minyak juga membuat anggaran keluarga menjadi boros.

4. Walau Ada BPJS, Tetap Lebih Hemat Jika Kita Hidup Sehat

Salah satu biaya paling mahal dan tidak terduga adalah biaya kesehatan. Bahkan hasil survei sebuah perusahaan asuransi, biaya rawat inap tipus atau demam berdarah (2 penyakit musiman yang sering membuat pasien rawat inap) bisa mencapai 3 sd 4 juta rupiah. Walaupun sudah ada BPJS Kesehatan, tetap saja Anda akan lebih produktif dan hemat jika hidup sehat. Solusinya bisa dimulai dari pola makan, gaya hidup dan rajin olah raga.

5. Keluar Untuk Jalan-Jalan Seperlunya Saja

Salah satu gaya hidup jaman sekarang yang banyak menguras biaya adalah kebiasaan untuk nongkrong di coffee shop. Kebiasaan ini telah membuka ceruk bisnis baru dengan makin menjamurnya cafe-cafe cantik yang telah mengubah gaya hidup ngopi atau ngeteh menjadi kebiasaan sehari-hari. Hal ini sebenarnya adalah pemborosan. Jadi, keluar untuk jalan-jalan baik itu ngopi, ngeteh bisa dilakukan seperlunya saja sebagai bagian dari pergaulan untuk anak muda atau refreshing bagi yang sudah berkeluarga.

Rata – rata harga satu cangkir kopi adalah 25 ribu, padahal kalau minum kopi sendiri paling 1 sachet kopi hanya seribu rupiah. Coba bayangkan jika tiap hari ngopi atau kongkow-kongkow. Habis 650 ribu sendiri untuk biaya gaya hidup ini. Boros kan?

Kesimpulan

Berhemat adalah pengorbanan, dan tentu saja bukan hal yang disukai banyak orang. Menghadapi kehidupan sehari-hari yang makin lama makin mahal terkena inflasi, maka langkah paling realistis menghadapi kenaikkan harga adalah dengan menambah penghasilan atau menghemat pengeluaran. Tujuannya adalah demi persiapan dana pendidikan, dana pensiun untuk masa depan. Anda sudah punya alokasi untuk dana investasi maupun dana pensiun bukan? Jangan mengorbankan alokasi dana ini akibat Anda tidak bisa berhemat.