Dalam menganalisis sebuah laporan keuangan, kita meti tahu apa itu debt to asset ratio (DAR) dan bagaimana cara menghitungnya. Sebab DAR berkaitan erat dengan kesehatan keuangan sebuah perusahaan.

Jika kita berhasil menghitung DAR, maka mudah untuk mengetahui pula bagaimana kondisi utang sebuah perusahaan hingga menganalisis bagaimana kemampuan perusahaan dalam mengelola modalnya.

Pengertian Debt to Asset Ratio (DAR)

Merupakan salah satu jenis rasio dalam laporan keuangan, DAR atau Debt to Asset Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur jumlah aset yang dibiayai oleh utang. Rasio satu ini sangat penting guna melihat solvabilitas perusahaan atau kemampuan untuk menyelesaikan segala kewajiban jangka panjang.

Artinya, semakin tinggi DAR sebuah perusahaan, maka dapat diindikasikan sebagai berikut:

  • Jumlah aset yang dibiayai oleh utang semakin besar
  • Jumlah aset yang dibiayai oleh modal semakin kecil
  • Risiko perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka panjang berarti semakin tinggi
  • Beban bunga hutang yang ditanggung perusahaan berarti semakin tinggi
 Debt to Asset Ratio secara bahasa berasal dari bahasa Inggris. Yakni rasio hutang terhadap aset perusahaan. Sedangkan solvabilitas merupakan istilah yang berasal dari gabungan kata ‘solve’ atau menyelesaikan dan ‘able’ yang berarti bisa.

Jika kedua kata tersebut digabung, maka akan menjadi ‘solvable’ yang berarti bisa membayar. Namun karena berkaitan dengan istilah dagang, maka lebih tepat diartikan ‘kemampuan membayar utang’.

Debt to Asset Ratio menurut Kasmir adalah rasio utang yang diperuntukkan mengukur perbandingan antara total aktiva dengan total utang. Berarti seberapa besar aktiva perusahaan dibiyayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. (Kasmir, 2010 hal.156)

Rumus Menghitung Debt to Asset Ratio (DAR)

Menurut Brealey Myres Marcus (2007, hal.76), rumus untuk menghitung DAR sangat sederhana. Yakni :

DAR = Total Liabilitas atau Kewajiban/Total Aset

Sofyan Syafri Harahap (2010, hal.304) menyebutkan kewajiban yang dimaksud dalam rumus DAR adalah ‘utang’. Namun intinya, rumus yang digunakan sama.

Dalam laporan keuangan, liabilitas letaknya ada di halaman yang sama dengan ekuitas. Yakni di halaman setelah laporan aset perusahaan. Liabilitas sendiri dapat diartikan sebaga hutang yang mesti dilunasi pihak lain di masa datang.

Keduanya, baik liabilitas maupun aset, sama-sama diambil dari nilai totalnya. Maka dapat disimpulkan aset haruslah dari hasil penjumlahan aset lancar dan aset tidak lancar. Liabilitas juga diambil dari liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang.

Cara Menghitung Debt to Asset Ratio (DAR)

Kita dapat mengambil contoh melalui analisis perbankan. Sebab, perbankan kerap kali memiliki rasio utang yang tinggi. Contoh soalnya:

Berdasarkan laporan keuangan PT Gunung Mas pada kuartal 2 tahun 2017, tercatat total assetnya Rp 8.500.000. berdasarkan ringkasan finansial statement0nya, pembulatan disajikan dalam ‘jutaan rupiah’. Maka angka 8.500.000 yang tertera tersebut dibaca 8,5 triliun. Sedangkan total liabilitas perusahaan tersebut sebesar Rp 7.200.000 atau Rp 7,4 triliun.  Berapakah DAR PT Gunung Mas pada kuartal II di tahun 2017? Maka jawabannya:

Total Liabilitas/Total Asset = Rp 7,2 triliun/Rp 8,5 triliun. Sama dengan 0,84 kali atau 84,7%

Maka dengan demikian, jika patokannya dari rasio modal rata-rata bank adalah 10% dari asetnya, rasio utang dari bank ini bisa dikatakan kurang aman. Sebab utangnya lebih dari 80 persen dari total aset yang dimiliki oleh bank. Dapat diartikan jika ada total 10 modal yang dimiliki bank Gunung Mas, hanya sekitar 1-2 yang digunakan untuk beroperasi dari jumlah modalnya.

Penilaian Debt to Asset Ratio (DAR)

Dari soal di atas, muncul pertanyaan, berapa sebenarnya nilai Debt to Asset Ratio yang baik. Maka untuk menjawab pertanyaan ini, kita simak beberapa hal berikut:

  • Jika rasio utang perusahaan jumlahnya kurang dari 0,5 kali, maka sebagian besar aset perusahaan adalah hasil dari biaya ekuitas.
  • Apabila rasio hutang lebih besar dari 0,5 kali, maka sebagian besar aset perusahaan adalah hasil pembiyaan dari hutang.
  • Nilai normal rasio DAR adalah 0,6-0,7 kali. Namun tetap melihat penilaian spesifik dari tiap industri. Sebab, tiap industri memiliki penilaian yang spesifik dan berbeda satu dengan lainnya.

Misalnya saja bank. Utangnya bisa sampai 0,9 kali. Dengan kata lain modal yang dimilikinya hanya 10% dari besarnya total aset yang dimilikinya.  Jadi kesimpulannya, makin rendah nilai rasio DAR sebuah perusahaan, maka kinerja keuangannya akan semakin baik. Jika semakin tinggi, maka berbanding lurus dengan risiko yang dimiliki perusahaan tersebut.

Namun perlu jika diketahui bahwa perusahaan dengan utang banyak selama tidak melebihi batas normalnya juga memiliki peluang melakukan ekspansi serta inovasi produk yang akhirnya dapat meningkatkan nilai laba bersih perusahaan.

Manfaat Debt to Asset Ratio (DAR)

Dari pengertian dan contoh soal penyelesaian DAR diatas, manfaat DAR sebenarnya sama seperti manfaat dari rasio solvabilitas. Diantaranya:

  • Digunakan untuk menganalisis status perusahaan serta kemampuannya dalam memenuhi kewajibannya terhadap pihak ketiga.
  • Untuk mengetahui status perusahaan dengan melihat keseimbangan jumlah modal serta aktiva yang dimilikinya.
  • Mengetahui besarnya rupiah dari modal yang dimiliki sendiri yang nantinya akan digunakan sebagai jaminan untuk membayar utang jangka panjang.
  • Melihat sejauh mana pengaruh utang yang ditanggung perusahaan terhadap aktiva yang dikelola. 
 Dengan beragam manfaat DAR seperti dijelaskan di atas, maka mengerti apa itu DAR dan bagaimana menghitungnya sangatlah penting.